Showing posts with label mengukur. Show all posts
Showing posts with label mengukur. Show all posts

Friday, May 1, 2015

Manfaat Belajar Fisika (Mengukur Kedalaman lubang dengan sebuah batu)

Apa sih gunanya belajar fisika? Saya sering bertanya-tanya begitu. Dan mungkin teman-teman juga atau bahkan siswa-siswa yang sedang belajar mata pelajaran ini di sekolah. Bagi mereka apakah fisika hanya dipelajari untuk menunaikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai siswa, untuk tugas atau untuk ujian saja, setelah semester usai lalu "semuanya pun usai pula". Dan untuk calon pendidik dan pendidik (katakanlah seperti saya :D) apakah belajar fisika ini hanya untuk di jelaskan sebagai materi pelajaran kepada siswa-siswa, sebagai pelunas kewajiban sebagai seorang guru fisika. Atau malah ini hanyalah pertanyaan yang tidak terlalu penting yang nyasar di pikiran saya yang sering kali liar. grin emotikon Baiklah, kalian bebas menginterpretasinya bagaimana. Di saat pikiran saya meliar begitu, ada sebuah cerita yang menarik yang memberi saya secercah cahaya di kegelapan pikiran yang menenggelamkan (*Apa sih, hehe).
Sebuah acara (saya lupa apa judulnya, hehe) di salah satu stasiun televisi yang temanya adalah bertahan hidup di alam yang liar, yang mana host dalam acara tersebut menjelajahi padang pasir hingga hutan belukar tanpa bekal apapun. Singkatnya, di salah satu adegan dalam reality show tersebut, saat dia sedang kehausan dan akhirnya menemukan sebuah lubang di sebuah padang pasir. Sebelum memutuskan untuk masuk ke lubang tersebut atau tidak, untuk mendapatkan sumber air, dia terlebih dahulu menentukan kedalaman lubang tersebut dengan menjatuhkan sebuah batu ke dalamnya lalu mengukur selang waktu jatuhnya batu dengan jamnya (mengukur selang waktu antara saat batu dijatuhkan hingga terdengar suara batu yang tiba di dasar lubang). Jadi, dengan menggunakan salah satu persamaan gerak jatuh bebas yaitu h=1/2 g t(kuadrat) dengan nilai g (percepatan gravitasi) nya adalah 9,8 m/s(kuadrat). dia bisa memperkirakan berapa kira-kira kedalaman lubang tersebut. Segera setelah melihatnya, saya jadi berpikir untuk cari-cari lubang untuk diukur kedalamannya grin emotikon... atau bila di sekitar lingkungan teman-teman ada lubang, misalnya sumur, yang ingin diukur kedalamannya, bisa menggunakan cara yang sama..
Ya, ini hanyalah salah satu cerita bagaimana fisika dapat bermanfaat bagi kehidupan kita. Saya yakin ada banyak sekali yang lain, dan mungkin teman-teman dapat membaginya pula di sini supaya orang-orang seperti saya yang sering kali tersesat dalam pikirannya yang liar, tidak ada lagi. grin emotikon

Mengukur Keliling dan Jari-Jari bumi dengan Tongkat


Berapa keliling bumi? Berapa jari-jari bumi? pertanyaan ini dapat dengan mudah kita cari di buku-buku atau yang paling mudah, dengan akses internet seperti sekarang ini, kita dapat langsung tanya sama mbah google. grin emotikon


Keliling bumi adalah 40000 km dan jari-jari bumi adalah 6370 km.

Tapi ko bisa ya, kita ngukurin keliling dan jari-jarinya bumi? Apa ada meteran yang panjangnya 6370 km trus orang yang bertugas ngukur, harus keliling bumi dulu, hehe LOL. Atau ada orang yang kerjaannya masuk ke bumi (kaya tikus tanah) trus ngelewatin berlapis-lapis lapisan tanah hingga inti bumi dan sampai di permukaan bumi di seberangnya sambil bawa-bawa meteran untuk tahu berapa diameternya bumi. *tambah ngaco squint emotikon



Sebelum tambah ngaco, ternyata keliling dan jari-jari bumi pertama kali diukur oleh Eratosthenes sekitar 235 tahun sebelum masehi. Bukan dengan menggunakan alat ukur yang kita bayangkan sebelumnya, grin emotikon


Tetapi dengan tongkat dan pengetahuan yang dia miliki. Dia tahu bahwa matahari paling tinggi di langit adalah pada tengah hari 22 juni. Pada saat itu, tongkat yang berdiri tegak lurus memiliki bayangan yang paling pendek. Jika matahari tepat di atas kepala (tegak lurus) batang yang berdiri tegak lurus tidak akan memiliki bayangan sama sekali. Ini terjadi di Syene, sebuah kota di Alexandria. Dia berpendapat bahwa jika sinar matahari tegak lurus ini diteruskan, garisnya akan sampai ke inti bumi (titik tengah lingkaran). Garis tegak lurus di tempat lain di bumi jika diteruskan, juga akan sampai di inti (titik tengah lingkaran). Di Alexandria pada saat yang sama, Tongkat yang berdiri tegak lurus mempunyai bayangan.


























Referensi
Hewitt, Paul J. Conceptual Physics1 seventh edition. San Fransisco: HarperCollinsCollegePublishers

Featured Post

Belajar Menerima Teori Flat-Earth sebagai Kebenaran Baru

Belum lama ini saya mendapatkan kiriman dari seorang teman dunia maya mengenai flat-earth. Ah, untuk yang satu itu kok sulit bagi saya untuk...